Bangkitlah dari kesedihan, karena kesedihan adalah proses yang harus dilalui untuk menuju kebahagiaan.

Kamu tak akan pernah bisa meraih apa yg ada di depanmu, jika kamu tak pernah mau melepaskan apa yg ada di masa lalumu.

Jangan mencoba tuk menjadi handal dlm sgala hal. Jadilah handal dlm satu hal. Itu yg membuatmu istimewa.

Yg membedakan Pemenang dgn pecundang adalah bagaimana seseorang Bereaksi terhadap setiap perubahan Takdirnya.

Pernah terbesit dipikiran kalau cinta adalah hal paling indah dalam hidup, beda saat kita sendiri hati ini terasang kosong bagai tidak ada isinya.

Hal paling penting didunia ini adalah kasih sayang, seandainya tidak ada mungkin dunia sudah kiamat.

Selasa, 10 April 2012

Wajah Itu Membayang di Piring Bubur


 
 

Seorang lelaki gemuk, bertelanjang dada, berdiri. Matanya melotot. Ia mengayunkan tinjunya ke wajah Murwad, namun Murwad mampu menghindar.
Selalu setiap hari, Sumbi menyiapkan bubur gula jawa kesukaan Murwad, suaminya. Bubur itu ia buat sendiri, dari beras terbaik—rojo lele—yang dicampur santan kelapa kental, sedikit garam dan ditaburi gerusan gula jawa. Setiap menyajikan bubur itu, mulut Sumbi selalu mengucap doa untuk keselamatan Murwad yang hingga kini belum pulang.
Sejak Pasar Kliwon terbakar, keberadaan Murwad tidak jelas. Ada yang mengatakan, Murwad tewas terbakar. Tubuhnya mengabu. Arwahnya gentayangan. Seorang bakul sayuran mengaku melihat Murwad berjalan melayang di antara los-los dan selasar pasar.
”Wajahnya ringsek! Kasihan sekali. Aku tidak tega melihatnya,” ujar bakul sayuran itu dengan wajah pucat.
Pengakuan itu segera menyebar ke seantero pasar. Umumnya orang-orang percaya, Murwad telah tewas.
Namun, Sumbi yakin, suaminya itu masih hidup. Dia pasti pulang. Entah kapan. Sumbi berusaha mengulur-ulur harapan itu dengan selalu menyajikan bubur gula jawa buat Murwad. Di hamparan bubur hangat itu, terbayang wajah Murwad. Tersenyum. Dada Sumbi terasa mengembang.
Murwad mengayun-ayunkan sapunya. Menghalau belasan pasangan yang sedang asyik masyuk bercinta di sela-sela los pasar. Bangku-bangku dipukulinya. Kursi dan dingklik dilemparkannya. Suara gaduh menjelang subuh itu membuat beberapa pasangan kaget. Mereka bergegas bangun. Langsung berlarian. Ada yang setengah telanjang.
Beberapa pasangan masih bertahan. Ada yang masih berangkulan. Bahkan nekat bercumbu.
”Ayo minggat! Minggat!” seru Murwad sambil mengacung-acungkan sapu lidi yang bertangkai panjang, bagai mengacungkan senapan.
Seorang lelaki gemuk, bertelanjang dada, berdiri. Matanya melotot. Ia mengayunkan tinjunya ke wajah Murwad, namun Murwad mampu menghindar. Murwad memukul kepala laki-laki itu dengan tangkai sapu. Laki-laki itu sempoyongan. Jatuh.
”Enak saja bercinta di pasar! Kalau tidak kuat nyewa losmen, ya cari kuburan!” Murwad meradang.
Laki-laki itu kembali menyerang dengan pukulan, namun hantaman sapu Murwad lebih cepat mendarat di kepalanya. Laki-laki itu pun kabur. Diikuti pasangannya.
Murwad, dengan wajah keruh, memunguti lembaran-lembaran koran, botol minuman beralkohol, bungkus jamu kuat lelaki, kondom, dan tikar jebol. Pekerjaan ini telah ia lakukan berulang kali, setiap menjelang subuh tiba.
”Dasar sundal! Kalian telah mengotori pasar. Gara-gara ulah kalian, pasar jadi sepi. Bakul-bakul bangkrut. Awas, jika kalian masih berani bercinta di sini!” Murwad berteriak-teriak. Suaranya diserap dinding-dinding pasar.
Mendadak terdengar suara ledakan. Sangat keras. Muncul percikan-percikan api. Makin lama makin membesar. Menjilat-jilat. Api itu terus menjalar membakar apa saja. Murwad berlari pontang-panting. Ia berusaha meloloskan diri dari kepungan api. Tubuhnya menjelma bayang-bayang.
Tubuh Murwad melayang memasuki lapisan-lapisan ruang. Ketika tubuh itu hendak jatuh, mendadak ada tangan yang terulur dan menangkapnya. Murwad kaget. Namun, sang penolong itu membujuknya untuk tenang lewat senyuman.
”Eyang ini siapa?”
”Namaku Ki Dono Driyah.”
”Kenapa Eyang menyelamatkan saya?”
Laki-laki sepuh itu tersenyum.
”Di mana saya?”
”Ruang awung-uwung. Tempat istirah jiwa-jiwa sebelum meneruskan perjalanan menuju Jagat Kelanggengan.”
”Jadi saya sudah mati?”
”Jantungmu masih berdetak. Rabalah....”
Murwad meraba dadanya. Ia masih merasakan degup jantungnya.
”Saya masih bisa pulang?”
”Bisa. Kapan saja. Sekarang?”
”Saya masih ingin di sini. Ruang ini sangat sejuk. Indah. Terang.”
”Seluruh dinding ruang ini adalah cahaya....”
Eyang Dono Driyah bercerita. Dulu dialah yang merintis berdirinya Pasar Kliwon hingga berkembang menjadi besar. Sebelum memulai kehidupan pasar itu, Eyang Dono bertapa selama 40 hari untuk mendapatkan wahyu pasar.
”Tuhan mengabulkan permohonanku. Wahyu itu hadir, berpendar-pendar di atas pasar itu. Dalam pendaran itu, Tuhan menaburkan rezeki,” ujar Ki Dono Driyah.
”Sekarang, wahyu itu masih ada, Eyang?”
Eyang Dono Driyah menatap wajah Murwad. Lalu, menggeleng.
”Kenapa?”
”Aku tidak tahu persis. Tapi, sejak pasar itu dihuni Genderuwo, suasana jadi aneh. Gerah. Genderuwo itu selalu meniupkan hawa panas dalam setiap aliran darah, hingga orang-orang saling membunuh.”
”Tapi di pasar itu, saya tidak pernah melihat perkelahian atau mayat-mayat....”
”Karena kamu tidak melihatnya dengan mata batin.”
”Bagaimana wujud Genderuwo itu?”
”Tinggi dan besarnya tak bisa dibayangkan. Tubuhnya berbulu hitam. Kasar. Kuku kaki dan tangannya sangat panjang. Matanya hijau. Bola matanya sangat besar, sepuluh kali lipat dari danau. Tubuhnya bisa berubah menjadi apa saja. Angin. Api. Udara. Dia hadir di mana saja, di setiap belahan dunia. Di setiap hati manusia.”
”Saya ingin melihatnya. Bisakah Eyang membantu?”
”Kamu belum siap. Kamu masih kamanungsan. Kamu mesti membebaskan diri dari hasrat-hasrat kemanusiaanmu. Berpuasalah. Kuat?”
”Kuat, Eyang. Saya ini terlatih menderita.”
Mendadak Tubuh Murwad terpental. Melenting ke udara. Melayang. Ia kaget. Tiba-tiba ia berada di sel penjara. Ia pukuli jeruji sel itu dengan piring seng. Seorang sipir datang. Matanya melotot. Murwad mengamati kaki sipir itu yang menapak di lantai. Ia pun yakin, dirinya masih hidup di dunia nyata.

”Dengan berubahnya Pasar Kliwon menjadi Kliwon Plaza maka masa depan itu kini ada dalam genggaman kita. Dinamika ekonomi kota ini akan terus meningkat dengan semakin banyaknya orang belanja.” Wajah Wali Kota Bragalba menyala. Orang-orang tepuk tangan. Ratusan blitz menghujani wajahnya.
”Masyarakat yang suka berbelanja adalah masyarakat yang makmur!” Bragalba mengunci pidatonya.
Tepuk tangan kembali membahana. Bragalba menekan tombol sirene. Kliwon Plaza resmi dibuka. Ia pun turun panggung. Para wartawan langsung menyerbunya.
”Apa benar, Pasar Kliwon sekarang dihuni Genderuwo?” tanya seorang wartawan.
”No comment. Maaf. Saya hanya menjawab pertanyaan yang rasional. Saya tidak percaya hantu.”
”Tapi masyarakat sangat percaya soal Genderuwo itu.”
”Itu mitos. Itu dongeng!”
”Saudara tahu, kenapa saudara ditahan di sini?” ujar seorang pemeriksa dengan ramah.
Murwad terdiam. Kepalanya terasa pusing diterpa lampu sangat terang.
”Tahu alasannya saudara ditahan?!”
”Tidak. Saya hanya melihat pasar itu tiba-tiba terbakar.”
”Bagus. Berarti saudara ada di lokasi ketika itu.”
”Iya. Tapi, saya hanya tukang sapu.”
”Itu tidak penting. Yang penting, saudara mengakui ada di lokasi.”
”Apa tujuan saudara membakar pasar itu?” tanya pemeriksa yang lain.
”Maaf Pak. Kenapa pertanyaan Bapak aneh? Saya tidak membakar.”
”Akui saja. Hukuman saudara akan ringan.”
”Tapi saya tidak membakar. Tidak, Pak. Tidak.”
”Saudara sakit. Saudara perlu dokter.”
Beberapa sosok meninggalkan ruangan. Dua petugas menggelandang Murwad menuju sel tahanan.
Sumbi mengambil bubur gula jawa yang tadi pagi ditaruhnya di meja dan menggantinya dengan bubur yang baru, yang masih hangat. Ia berharap, Murwad segera menikmatinya. Lahap. Seperti biasanya. Agar ia tetap sehat. Dan bisa cepat pulang. Bayangan wajah Murwad melekat di hamparan bubur panas. Sumbi melihat, Murwad sangat menikmati bubur itu.
Di sel tahanan, sudah lebih seminggu Murwad tidak mau makan. Makanan itu dibiarkan saja dirubung lalat. Ia merasakan tubuhnya lemas dan panas. Namun, semangatnya tetap tinggi untuk tidak menyerah. Para sipir selalu membujuknya untuk mau makan. Namun selalu ditolaknya.
Pada hari kesebelas, Murwad merasakan tubuhnya ringan. Melayang. Memasuki lapisan-lapisan cahaya. Ia melihat Eyang Dono Driyah duduk mengambang di antara dinding-dinding cahaya.
”Eyang.....aku melihat Pasar Kliwon berubah jadi bangunan megah dan indah. Penuh cahaya. Tapi Eyang, aku melihat sosok hitam besar sekali. Ya, dia duduk di sana,” mata Murwad terpejam.
”Ya, itulah Genderuwo penguasa pasar!”
”Aduh eyang, mataku tidak kuat. Pandanganku jadi gelap.”
”Dia memang sakti sekaligus ganas! Hati-hati. Sekarang lihatlah lagi. Genderuwo itu masih di sana?”
”Masih....; Dia menggerakkan tangannya. Tidak hanya dua, tapi banyak sekali. Tangan-tangan itu berubah jadi belalai panjang dan besar. Ya, ampun pasar itu dibelitnya. Gumpalan-gumpalan uang itu dihisapnya.”
”Dia lebih dari rakus....”
”Genderuwo itu menoleh, Eyang. Dia menatapku. Matanya hijau bikin silau. Gigi-giginya gemeretak. Taring-taringnya berkilat-kilat.
”Eyangggggg!!!!!!”
Tubuh Murwad tumbang.
Murwad membuka mata. Pelan-pelan. Ia melihat ruangan yang asing. Serba putih. Bersih. Selang-selang infus menancap di lengannya.
Seorang perawat tersenyum kepadanya. Murwad ketakutan. Ia melihat wajah hitam berbulu kasar, dengan tatapan mata hijau tajam, dengan mulut yang menyeringai, dengan taring-taring tajam penuh bercak darah.
Mata Murwad terbelalak. Kedua tangannya seperti menahan tangan-tangan lain yang mencekik lehernya. Murwad terus meronta. Tubuhnya mengejang. Napasnya terasa berhenti. Tangan-tangan itu terlalu kuat untuk ditahan.
Sumbi, dengan takzim, menaruh bubur gula jawa yang masih panas itu di meja. Tangannya mendadak gemetar. Piring itu terlepas. Bubur itu tumpah. Ia tak melihat lagi wajah suaminya dalam hamparan bubur....
 
Yogyakarta

Minggu, 08 April 2012

Jembatan Tak Kembali

 
 
Mulailah mereka mencuri kucing-kucing Jose. Yang kuning. Yang coklat. Yang hitam. Yang putih. Dan yang kelabu pun dicurinya.
Dan sebagai jembatan, maka Jembatan Tak Kembali adalah jembatan yang begitu indah. Kerangkanya berwarna merah. Punggungnya kuning keemasan. Sedangkan pagar pembatas samping kiri-kanannya seakan-akan selalu berputar pelan. Seperti berputarnya jarum jam yang bunyinya begitu halus. Deg-deg-deg surrr.
Tapi, meski tak kembali, selalu saja, hampir tiap saat ada yang menyeberangi jembatan itu. Dan si penyeberangnya berasal dari sekian kalangan yang berbeda. Baik berbeda umur, status, atau kepandaian. Dan rata-rata, mereka selalu menampakkan wajah yang ceria. Penuh harap. Dan gelora.
Bahkan, jika kalian saksikan, selalu saja ada di antara mereka (yang menyeberang itu) bernyanyi. Terutama bernyanyi tentang apa-apa yang membuat semua nafsu buruk memadam. Berganti dengan seribu genta mungil yang melayang-layang. Genta mungil yang berdenting. Seperti denting sebaris mantra. Mantra tentang sorga yang dicinta. Sorga yang ketemu lagi.
Dan sorga yang akan membuat mereka mencapai tingkat yang tiada tara. Tingkat, di mana, apa yang mereka sandang akan menjadi sempurna. Dan menjadi sesuatu yang menurut kabar yang ada, mencapai titik yang tak terjabarkan lagi. Misalnya, yang pintar masak, akan dapat memasak tanpa kompor. Yang pintar silat, akan bersilat tanpa bergerak. Dan yang pintar berlari, akan berlari tanpa mengenal tenaga.
”Hoi, berilah kami kelancaran untuk menyeberang!”
”Hoi, juga kelancaran agar tak terperosok!”
”Hoi, juga keteguhan diri!”
Tentu saja, meski mereka menyebut: ”Hoi!,” tapi nada suara mereka bukanlah nada yang memaksa. Sebaliknya, penuh ketulusan dan kerendahan hati. Ibarat sebuah lautan yang biru dan dalam, betapa, betapa tenangnya nada suara mereka. Dan ibarat gunung yang menjulang, betapa, betapa, sampainya puncak gunung itu ke langit lapis ketujuh.
Langit yang di semua sisinya begitu meluas dan makin meluas. Seperti tak ada lagi makhluk yang sanggup mengukurnya. Meski itu cuma di dalam pikiran dan khayalan. Pikiran dan khayalan yang sanggup untuk menulis sekian ribu halaman buku. Buku yang berisi tentang semua pengetahuan yang pernah ditemukan dan yang akan ditemukan.
”Ayo, kita menyeberang. Sampai jumpa ya!”
”Yup, kita menyeberang bersama-sama!”
”Siap! Ayo berangkat!”
Dan mereka (yang menyeberang itu) pun menyeberanglah. Dan rasanya, ketika kaki mereka menjejak di punggung jembatan, pun menjelma semacam langkah-langkah sebuah tarian. Langkah-langkah yang gemulai. Ke kiri, ke kanan. Indah dan memesona. Mungkin, jika saja langkah-langkah itu berada di atas panggung, tentu akan menjadi sebuah pertunjukan yang serasi, kompak, dan menggetarkan.
Sedangkan bagi yang melihatnya. Yang berada di pingir-pinggir, dan yang tak ikut menyeberang, cuma bisa melambai. Sambil tetap mengarahkan pandangannya tanpa berkedip. Di hati mereka, pun penuh dengan doa. Doa yang bermuara pada satu harap: ”Cepat atau lambat, kami segera juga menyeberang. Menyusul mereka. Menyusul untuk mencapai kesempurnaan. Tunggu saja.”
Hmm, itulah ceritaku tentang Jembatan Tak Kembali. Sebuah cerita yang penuh teka-teki. Kenapa? Karena aku yakin, kalian pasti akan bertanya: ”Jika mereka yang menyeberang itu telah sampai di seberang jembatan. Di tempat yang berkabut dan berisi kesempurnaan, lalu apa yang dilakukannya? Apakah mereka menjadi puas? Atau ada hal lain yang perlu untuk juga diceritakan di sini?”
Ahai, pertanyaan yang bagus. Pertanyaan yang memang aku nanti. Dan jujur saja, ternyata, ketika telah sampai di seberang, dan memperoleh kesempurnaan yang diharapkannya itu, mereka memang menjadi lain. Apa yang mereka sandang telah mencapai pada titik yang tiada tara. Tak terjabarkan. Semuanya hanya tinggal dipinta dan diucapkan. Langsung tersedia. Dan langsung bisa untuk direngkuh.
”Aku ingin berlari ke bukit!” maka sampailah mereka ke bukit. Atau ”Aku ingin merasakan masakan paling nikmat!” pun langsung tersedia. Dan itu membuat mereka bahagia. Dan membuat mereka untuk terus-terusan mengucapkan ini-itu yang beragam. Ini-itu yang membuat mereka cuma berada di tempat. Tak bergerak. Sebab, buat apa mesti bergerak, jika apa yang diinginkan selalu tersedia di hadapan. Tersedia dalam aneka ragam yang dapat disesuaikan.
Jadinya, karena kelamaan tak bergerak, pelan-pelan mereka pun menjadi terdiam. Hanya mata mereka saja yang kedap-kedip. Mata yang begitu sempurna dan layak untuk disebut sebagai mata yang bulat, bundar, dan penuh ketenangan. Mata yang kini tampak tak lagi memikirkan bagaimana cara mengasah apa yang disandangnya.
Ya, mereka kini bukan lagi sebagai pengejar dari apa yang mesti dikejar. Sebaliknya, mereka jadi sebagai si pendiam. Si pendiam yang tak lagi menginginkan apa-apa. Sebab, apa yang mesti diinginkan, jika semuanya begitu mudah untuk terwujud dan tercapai? Dan begitu mudah untuk dibentuk hanya dengan sebuah ucapan? Dan rasa-rasanya, tanpa mereka sadari tubuh mereka pun mulai mengeluarkan serabut.
Serabut halus. Serabut yang entah apa warnanya. Tapi begitu berkilau. Dan begitu menerangi tempat di mana mereka berada. Dan saking terangnya, apa-apa yang bergeriapan di sekeliling mereka pun terlihat. Apakah itu yang terbang, merayap, berguling, atau hanya sekadar terpaku tak bergerak. Semuanya terlihat. Dan semuanya seakan-akan memang begitu bahagia hanya untuk dapat terlihat.
”Akh, aku tak jadi menyeberang deh!”
”Loh?”
”Iya. Jika akhirnya cuma seperti itu, terus buat apa.”
Ya, ya, itu adalah perkataan Jose di pagi ini. Perkataan yang mungkin kesekian kalinya. Dan memang perlu kalian ketahui, Jose adalah satu-satunya orang yang kerap membatalkan niatnya ketika akan menyeberangi jembatan.
Padahal, jika boleh aku bercerita pada kalian, semua yang ada di diri Jose sudah mumpuni. Dan layak untuk mencapai kesempurnaan. Lain itu, barangkali, hanya Jose-lah yang telah digadang-gadang oleh semua orang untuk segera menyeberang.
”Tapi, siapa nanti yang akan memberi makan kucing-kucingku?” sergah Jose.
Kucing? Astaga, inilah alasan sejak dulu yang mengganjal diri Jose untuk menyeberang. Alasan untuk memberi makan kucing-kucingnya. Dan kini, kucing-kucing Jose tidak lagi lima atau enam ekor. Tapi mungkin hampir lima puluh ekor. Dan setiap pagi, siang, dan sore selalu diberinya makan.
”Kucing-kucingku butuh makanan yang layak?” begitu tambah Jose, ”Sebab kucing-kucingku itu hampir tiap malam mengejari tikus-tikus. Tikus-tikus yang gemar merusak setiap apa yang ada di kampung. Dan kalian tahu jugakan, tikus-tikus yang merusak itu, kini semakin banyak. Gemuk-gemuk. Dan ngawur-ngawur. Bahkan, saking ngawurnya, di siang bolong pun berani merusak juga. Seperti sudah tak ada lagi yang ditakuti.”
”Terus, kapan kau akan jadi sempurna?” tanya seseorang.
”Aduh, biarlah tak jadi sempurna. Asalkan kucing-kucingku masih dapat aku urus.”
Dan seperti yang sudah-sudah, Jose pun kembali meninggalkan pinggir Jembatan Tak Kembali. Semua orang memandangnya. Semua orang melongo. Dan seperti pendekar dari dunia antaberantah, kucing-kucingnya pun mengintil. Kucing-kucing yang lucu. Kucing-kucing yang tangkas. Dan kucing-kucing yang membuat orang yang melihatnya jadi gemas.
Bagaimana tidak gemas, kucing-kucing itulah yang kerap mengganggu mereka ketika sedang makan. Atau sedang enak-enak tidur. Sebab, tingkah laku dan suara ngeongnya demikian keras dan memekak. Apalagi jika sudah memasuki musim kawin. Ck ck ck kampung pun seakan-akan berubah menjadi panggung simponi yang ribut. Simponi yang sering membuat genting-genting bergeser.
Jose, Jose, ya, itulah nama orang yang tak mau menyeberangi Jembatan Tak Kembali. Jembatan untuk memperoleh kesempurnaan. Hanya karena tak mau meninggalkan kucing-kucingnya. Dan karena ketakmauannya itulah, banyak orang di kampung yang membicarakannya. Ada yang bangga. Ada yang cuek. Dan ada pula yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh.
Si aneh yang lebih suka memberi makan kucing-kucingnya daripada mengejar kesempurnaan hidupnya. Dan mereka yang diam-diam menyebut Jose sebagai si aneh ini, semakin lama, semakin bertambah. Dan siasat pun mulai mereka gariskan. Yaitu, bagaimana caranya agar kucing-kucing Jose dapat berkurang.
Mulailah mereka mencuri kucing-kucing Jose. Yang kuning. Yang coklat. Yang hitam. Yang putih. Dan yang kelabu pun dicurinya. Dimasukkan ke dalam karung dan dibuang ke luar kampung. Sampai akhirnya, kucing-kucing Jose habis. Dan Jose pun kelimpungan. Dan Jose pun menjadi sedih. Setiap waktu, setiap saat, kerjanya cuma mencari kucing-kucingnya yang hilang.
Dan di antara rasa sedih dan mencari inilah, mereka yang telah mencuri kucing-kucing itu, berkata pada Jose: ”Jose, percayalah, kucing-kucingmu itu telah menyeberangi Jembatan Tak Kembali. Menyeberangi secara diam-diam.” Tapi anehnya, sejak perkataan ini terlontar, sejak itu pula sosok Jembatan Tak Kembali pun jadi menghilang. Tak berjejak. Seperti ditelan kegaiban.
Dan tikus-tikus, yang kini tak lagi punya penghalang itu, pun segera merajalela di kampung!
(Gresik, 2011)